Senin, 10 April 2017

Naskah Drama “Roro Mendut”, terinspirasi dari novel Roro Mendut karya Ajip Rosidi



Pada masa kesultanan Mataram berada pada puncak kejayaan, yakni pada masa pemerintahan  Sultan Agung, adalah seorang Bupati yang teramat dikasihi oleh Kanjeng Sultan Agung yang bernama Wiroguna. Lantaran kesetiaannya dan jasa-jasanya, Bupati Wirogunan mendapat anugerah dari Kanjeng Sultan dengan gelar Tumenggung, Tumenggung Wirogunan.
Tumenggung Wirogunan sudah berpuluh-puluh tahun mengabdi kepada Mataram, hingga kini usianya yang mulai tua renta seakan tidak mempunyai kekuatan yang tampak dari dirinya. Namun karena kekuasaan absolute yang dimilikinya serta kebaikan hatinya, Tumenggung Wirogunan dicintai dan disayangi para hambanya.

BABAK 1
Begitu pula ketika matahari mulai lingsir ke arah barat, Ki Tumenggung bangkit kemudian mengangkat tangan kanan seraya menjentik.
Tumenggung Wirogunan :
“Keluarkan ayam sabungan !”
(Hal tersebut sangat dinantikan oleh para pejabat bawahanya, karena sangat mungkin sebagai lahan judi).
Tumenggung Wirogunan :
“Malam hari pantang untuk berjudi, bisa merusak ketentraman malam hari, badan lellah, mata mengantuk. Kalau demikian halnya, maka kesokan harinya orang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik.”
“Pagi haripun terlarang berjudi di Wirogunan, karena tidak baik berjudi diwaktu orang bekerja. Orang musti tenang melakukan pekerjaannya, jangan tertarik hatinya pada permaianan iseng-iseng.”
Karenanya berjudi sabung ayam dilakukan antaa lohor sampai magrib.
BABAK 2
            Pada suatu ketika di pendopo istana, terlihat Ki Tumenggung dengan wajah bermura durjam, bahkan segala hidangan yang tersaji pun tak disentuhnya sedikitpun. Merasa heran pula lah Nyai Ajeng yang selama ini mendampingi Tumenggung Wirogunan sebagai permaisuri.

            Nyai Ajeng :
            “ada apakah gerangan yang membuat Kanjeng begitu kehilangan selera makan, hingga begitu tampak menyiksa diri ?”
            Tumenggung Wirogunan :
            “Tak ada suatu apa kiranya, Nyai”
            Nyai Ajeng :
            “Kanjeng, tampak begitu lusuh. Kehilangan selera makan pula, apakah ada kesalahan hamba atau perilaku yang selama ini mengganjal ?”
            Tumengggung Wirogunan :
            “ itu pun tidak, nyai”
Nyai Ajeng, yang telah berpuluh tahun medampingi Ki Tumenggung sudah mengerti tabiat dari suaminya yang menjadi muram.
            Nyai Ajeng :
            “Kalau begitu apa yang Kanjeng kehendaki ?”
            Tumenggung Wirogunan :
            “Baiklah, adakah kiranya Nyai tidak lelah mendampingi ku sekian lama ini ? aku ingin memerdekakan Nyai selaknyanya hamba yang lain di istana. Mereka bebas menetukan nasibnya tanpa menggantung nasibnya pada diriku.”
            Nyai Ajeng :
            “Hamba tidak merasa lelah sedikitpun, atau bahkan mengeluh atas posisi hamba hingga saat ini.”
            Tumenggung Wirogunan :
            “Nyai, aku ingin mendapatkan keturunan yang bisa meneruskan tahta ku suatu saat nanti. Sedangkan hingga saat ini itu yang tidak bisa kau berikan untuk ku, karenannya aku sangat menghargai jasamu selama ini. Namun, Gusti Pangeran belum berkehendak memberikan kita keturunan. Itu yang selama ini membuat aku gundah.”
            Nyai Ajeng :
            “maafkan diri hamba ini yang tidak bisa member keturunan kepada Kanjeng, kemudian siapakah gerangan gadis yang selama ini Kanjeng impikan bisa member keturunan?”

            Tumenggung Wirogunan :
            “adapun gadis yang hendak aku aku angkat menjadi kepala selir, ialah gadis boyongan dari Pati anugerah kanjeng sinuhun yang memiliki nama Ni Roro Mendut.”
            Nyai Ajeng :
            “Meskipun ia bukan keturunan bangsawan juga tak berdarah priyai, namun rupanya cantik jelita. Takakan mengurangi kehormatan kanjeng bila ia diperistri dijadikan selir untuk mendampingi Kanjeng di istana.”
            Tumenggung Wirogunan :
            “Baiklah saran baikmu aku terima, Nyai. Karena itu agar lekas beres, aku utuskan kepadamu untuk menjelaskan maksud niatan diriku ini kepada Ni Roro Mendut. Kau minta supaya ia bersedia menjadi isteriku.”
            Nyai Ajeng :
            “Titah hamba junjung dan menurut hemat hamba, mustahil ia menolak !”
            Kemudian Nyai Ajengpun meminta diri dari hadapan Kanjeng untuk menjalankan titahnya.

BABAK 3
            Ni Roro Mendut ditempatkan di pondok sebelah timur, ia dipisahkan dengan ketiga temannya yang berasal dari Pati. Mereka dipisahkan, di pondok yang kecil itu Roro Mendut tinggal dikawani oleh Ni Centung, seorang dayang yang telah lanjut usianya.
            Ketika Nyai Ajeng datang, Ni Roro Mendut sedang membatik.
            Nyai Ajeng :
            “Rajin benar, dirimu Mendut.
            Roro Mendut :
            (kaget oleh kedatangan Nyai Ajeng, sembari atur sembah kepada Nyai Ajeng. Kemudian meletakan canting serta kain batiknya)
            “Hamba Nyai, ada apakah gerangan yang menghantarkan Nyai untuk mengunjungi hamba?”
            Nyai Ajeng :
            “Kemarilah, aku ingin berbicara suatui hal kepadamu. Aku datang kemari bertujuan meneruskan titah Kanjeng yang telah memberikan segala kebutuhan dan kemewahan kepada kita semuanya.”
(Roro mendut hanya menundukan kepala, ia merasa jemu. Tetapi ia tidak membantah)
            “Sungguh berbintang gemilang nasibmu, mendut. Meskipun kau urung menjadi gundik Adipati Pragolo, kau seumpama kehilangan perak dengan mendapatkan emas.”
(Roro mendut tidak menyahut, hanya kepalanya semakin rendah saja tertunduk)
            “Kanjeng Tumenggung, tidak saja hanya akan mengangkat mu menjadi selir. Tetapi… ah, sungguh keberunrungan mu ini tak dimiliki seribu orang sudra sama sepertimu. Kanjeng Tumenggung bermaksud untuk mendajikanmu istri, mendut.”
(Roro mendut masih terdiam, justru paras wajahnya berubah menjadi bermuram durja mendengar penjelasan dari Nyai Ajeng)
            “Mengapa wajahmu berubah, sekaan tidak bahagia mendengar titah dari Kanjeng Tumenggung yang kubawa untukmu?”
            Roro Mendut :
(Masih tertunduk serta cemas yang dirasakannya)
            “Inggih Nyai, mohon ampun diri hamba yang sudra ini. Hamba mohon titah itu jangan diberikan kepada hamba.”
            Nyai Ajeng :
            “Tak pantaslah kau menolak, berbagai anugerah yang telah diberikan kita. Sebagai wanita kita sudah ditakdirkan untuk pasrah dan melayani setiap kehendak kaum lelaki. Apalagi titah ini berasal dari Kanjeng Tumenggung.”
            Roro Mendut :
            “Mohon ampun beribu ampun, Nyai. Bukan hamba menolak limpahan anugerah dari Kanjeng Tumenggung, menurut hamba tak pantaslah diri hamba ini menjadi isteri dari Kanjeng Tumenggung. Karena sepatutnya Kanjeng Tumenggung menjadi kakek hamba….”
            Nyai Ajeng :
(Dengan wajah murka dan heran)
            “Mendut, bila itu maumu. Akan ku sampaikan kepada Kanjeng Tumenggung. Entah bagaimana murkanya kelak! Tentu kau akan diusirnya.
            Roro Mendut :
(mengaturkan sembah pula)
            “Jangankan dibakar atau dipanggang hidup-hidup dengan kerispun hamba terima, asal tidak menjalankan titah yang satu itu … “
(nyai Ajeng hanya memandang dalam-dalam Mendut yang telah lancang mengingkari titah yang berasal dari Kanjeng Tumenggung. Dan kemudian meninggalkan Mendut untuk menghaturkan kabar tersebut kepada Kanjeng Tumenggung. 
           
BABAK 4
Setelah gagal membujuk Roro mendut untuk menjalani titah Kanjeng, kemudian Nyai Ajeng menuju istana untuk menemui Kanjeng Tumenggung dengan maksud menyampaikan penolakan titah tersebut kepada Kanjeng Tumenggung.
(dengan tertunduk serta sembah Nyai Ajeng menghadap Kanjeng)
Nyai Ajeng ;
“Ampun Kanjeng, Roro Mendut menolak titah yang berasal dari Kanjeng.”
            Tumenggung Wirogunan :
(sembari bangkit dari dari duduknya, dan membelalakan matanya. Sehingga tampak sekali Tumenggung Wirogunan atas berita dari Nyai)
            “Apakah maksudmu Nyai, Roro Mendut menolak ?”
            Nyai Ajeng :
(masih dalam keadaan tertunduk kaku)
            “Inggih begitu, Kanjeng. Tidak salah dugaan Kanjeng.”
            Tumenggung Wirogunan :
            “Bedebah benar! Anak Kurang ajar! Keparat! Binatang Busuk! Dia kira siapa dirinya, benrani menolak anugerah Ki Tumenggung Wirogunan yang menjadi tangan kanan Kanjeng Sinuhun. Sungguh tak tau diuntung, sekali-sekali ia mesti merasakan bekas tangan ku ini.
            Nyai Ajeng ;
            “Sabar Kanjeng Tumenggung, jangan jadikan ini justru menjatuhkan martabat Kanjeng Tumenggung dihadapan Kanjeng Sinuhun. Kanjeng bisa memberi pelajaran kepada Roro mendut dengan hukuman yang berarti kepadanya.”
            Tumenggung Wirogunan :
(masih dengan muka yang membaja dan diwarnai hawa yang murka)
            “Baiklah, aku terima saran mu Nyai. Roro Mendut harus membayar cukai tiga real tiap harinya sebgai ganti. Agar ia merakan kesulitan untuk mencari uang sebayak itu dan akhrinya ia menyerahkan dirinya kepada ku… hahahaaaa.”
Kemudian Nyai Ajeng segera mengaturkan sembah akan mengundurkan diri. Setelah diperkenankan ia segera menuju ke pondok timur tempat tinggal Roro mendut.
BABAK 5
Sementara Roro Mendut sedang terngiang akan ucapan ibundanya yang menceritan akan nasibnya yang diterimanya kelak. Kemudian datang pula Nyai Ajeng ke arah pondok Roro Mendut.
            Nyai Ajeng :
            “Mendut permintaanmu telah aku sampaikan kepada Kanjeng Tumenggung. Beliau amat murka kepadamu dan oleh karena itu kau harus mendapatkan hukuman sebagai penggantinya. Yaitu, kau harus menyetorkan uang tiga real tiap harinya kepada istana.”
            Roro Mendut :
            “Bagaimana mungkin hamba bisa mengumpulkan uang sebanyak itu tiap harinya, Nyai?”
            Nyai Ajeng :
            “Tapi itu yang harus kau penuhi, bila tidak. Kau musti menyerahkan dirimu kepada Kanjeng Tumenggung. Berapa modal yang kau minta untuk memulai usahamu Mendut ?”
            Roro Mendut :
            “Baiklah tiga real saja, Nyai.”
(kemudian setelah mendapat titah tersebut Roro Mendut terpikirkan untuk berjualan rokok tiap harinya di pasar, ia yakin dengan kecantikannya bisa menarik banyak pembeli roroknya tersebut)

BABAK 6
Pagi-pagi benar Roro Mendut berdagang menuju Prawiromantren, ditemani dua pendampingnya yakni Ni Cuwal dan Ni Cuwil. Banyak para pemuda yang berpapasa kemudian mengaihkan perhatianya kepada Roro mendut, sehingga pagi itu suasanan jalan menjadi riuh sekali.
Tak lama kemudian akhirnya Roro mendut telah sampai di pasar Prawiromantren, kemudian kedua pendampingnya membuka lapak dagagannya. Dan tak perlu menunggu waktu lama lapak dagangan Roro Mendut di kerumuni orang-orang yang membeli rokok, bahkan banyak orang yang tidak mendapat tempat untuk duduk justru bersedia menunggui di luar lapak.
           
Pembeli ;
            “Berapa harga satu linting rokok ini Ni ?’
            Roro Mendut ;
            “Sebatang itu, seharga setengah real kang mas.”
            Pembeli ;
            “Mahal sekali untuk rokok sebatang begini, apa istimewanya?”
(dengan wajah terheran-heran, dan menatapi selinting rokok yang terbuat dari kulit jagung itu)
            Roro Mendut ;
            “Rokok di sini berbeda disbanding dengan rokok kualitas di tempat lain, kang mas.”
            Pembeli ;
            “Bagaimana dengan putung rokok yang ini Ni ?”
            Roro mendut :
            “Kalau putung itu seharga sepuluh real.”
            Pembeli :
(semakin terkejut pula mendengar perkataan Roro Mendut)
            “hahahhaaa… lucu sekali, justru putung rokok malah lebih mahal disbanding harga satu batang rokok utuh !”
            Roro Mendut :
(sembari menghisap perlahan rorok yang diapit di jemari mungilnya)
            “Jangan heran kang mas, putung rokok itu bukti rokok itu telah hamba hisap. Pada kulit jagung itu masih tersisa air liur hamba yang melekat kang mas. Karena itu semakin pendek putung rokok itu, menandakan semakin lama pula rokok yang hamba hisap. Dan harganya pula semakin mahal putung rokok yang pendek.”
            Pembeli :
(semakin tertarik, dan membelalakan mata yang terkejut setelah mendengar penjelasan yang bernada romantic dari Roro mendut)
            “Baiklah Ni, aku beli putung rorok yang paling pendek itu.”
(begitu pula pembeli lain mengikuti untuk mebeli putung rokok yang tersisa, bila tak kebagian putung rokok mereka terpaksanya membeli batang rokok yang masih utuh)
Para pembeli seakan telah mendapat candu yang luar biasa dari rokok yang dijual Roro Mendut, mereka tak sadar telah menyerahkan segala harta benda yang mereka miliki untuk membeli rokok Roro Mendut. Oleh karena itu Roro mendut selalu bisa memenuhi upeti yang diminta Kanjeng Tumenggung.
Pada suatu ketika dalam keraimaian berlangsung muncul seorang pemuda tampan yang datang jauh dari Pekalongan menuju Prawiromantren bermaksud untuk menyabung ayam aduannya dengan ditemani seorang hambanya. Pronocitro namanya
            Pronocitro ;
            “Ramai sekali di sini, tak sabar rasanyanya aku mengikuti gelangggang sabung ayam di sini.”
(sembari menggendong ayam kesayangannya)
            Hamba Pronocitro :
            “Mari Tuan … tapi lihat di lapak itu ramai sekali, ada apakah gerangan Tuan ?”
            Pronocitro ;
            “Mari kita lihat…”
(sembari jalan menuju lapak dagangan milik Roro Mendut)
            “Apakah yang kau jual ini Ni …?”
Tanpa disengaja mata Pronocitro bertatap-tatap dengan mata Roro Mendut, kemudian Roro Mendut menjadi malu, wajahnya merah padam karena terpesona ketampanan Pronocitro yang selama ini belum pernah di ketemuinya. Begitu juga dengan Pronocitro yang sangat tertarik dengan kecantikan paras yang dimiliki Roro Mendut.
            Roro mendut :
            “ini, hamba menjual rokok yang terbuat dari kulit jagung, Tuan”
Pronocitro :
“Baiklah, buatkan aku rokok yang paling special yang kau bisa Ni… “
Ternyata di dalam bungkus rokok itu terdapat surat yang menjelaskan Roro Mendut merupakan segala keadaan yang telah di alami selama ini, dan Roro mendut meminta Pronocitro untuk membebaskan dirinya dari cengkram Tumenggung Wirogunan. Merasa perihatin dengan keadaan Roro Mendut, kemudian Pronocitro pun membalas surat Roro Mendut.
            “Baiklah andinda, tak usah khawatir. Kakanda akan berusaha membebaskan dirimu dari Kanjeng Wirogunan.”
BABAK 7
Kesokan harinya Pronocitro berpamitan untuk kepada ibundanya di Pekalongan untuk pergi ke Prawiromantren kembali.
            Pronocitro :
(sembari sembah sujud menghadap ibundanya)
            “Hatur sembah sujud Pronocitro kepada ibunda, …”
            Ibunda Pronocitro :
            “Ada apa gerangan kau begini, tidak seperti biasanya kau begini anakku …?
            Pronocitro :
            “Ibu… ananda telah terpikat oleh kecantikan gadis jelita dari Wirogunan. Oleh karena itu pernkenankanlah hamba untuk pergi dan mengabdi di sana.”
            Ibunda Pronocitro :
(dengan terkejut sontak, matanya membelalak dengan lebar)
            “apa katamu ?”
            “aku tidak ingin kembali kehilangan orang yang aku sayangi, Cuma kau kini yang telah menjadi satu-satunya setelah ayah dan kakakmu meninggal ditelan ganasnya ombak di laut.”
            Pronocitro ;
            “Mohon ampun ibunda, tekad ananda sudah bulat untuk bisa mengabdi disana agar bisa membebaskan Roro Mendut.”
            Ibunda Pronocitro :
            “karena tekad bulatmu itu, aku tidak bisa menghalangi kau untuk pergi… aku hanya bisa mendoakan agar kau selamat di sana.”
            Pronocitro :
            “Terimakasih Ibunda, restu ibunda lah yang ananda harapkan…”
Pergilah Pronocitro ke Wirogunan untuk bermaksud mengabdikan diri disana, agar bisa semakin dekat dengan Roro Mendut.



BABAK 8
 Setibanya di Wirogunan, Pronocitro mencari akal agar bisa masuk ke istana dan mengabdi di istana.
Pronocitro :
(berjalan mendekati salah satu abdi dalam istana)
“Paman, apakah paman bisa membantu aku untuk bisa mengabdi di dalam istana seperti paman ?”
(dengan raut wajah yang bingung)
“Jangan khawatir paman, aku beri paman imbalan jika aku bisa menjadi abdi dalem istana ini.”
Abdi dalem Istana :
“Baiklah, aku bisa membantu mu…. Ayo ikuti aku.”
Mereka berdua akhirnya masuk, dan Pronocitro pun segera menjalankan tugasnya sebagai pemberi makan kuda-kuda prajurit di istanan.
Pronocitro, tinggal di dekat pondok timur istana dekat dengan pondokan Roro Mendut.
            Pronocitro :
“Adinda, Roro Mendut…. Aku datang untuk membawamu pergi dari istana ini.”
            Roro Mendut :
“Sudah ku nantikan kau begitu lama, kakanda Pronocitro… “
“tetapi bagaimana kita bisa menembus keamanan istana yang begitu ketat, kakanda ?”
            Pronocitro :
“Nanti malam, dinda…”
“Tepat tengah malam aku akan jemput kau, kita akan melarikan diri melewati rerumputan di sebelah selatan istana. Untuk menghindari pengawalan istana di pintu utama.”
(dengan wajah yang begitu meyakinkan kepada Roro Mendut)
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, tepat pada tengah malam ketika penjaga malam mulai dihinggapi rasa ngantuk dan penjagaan malampun mulai lengah.
            Pronocitro :
(dengan nada berbisik, dan menyelinap ke depan jendela kamar Roro Mendut)
“dinda… dinda, adinda Roro Mendut? Ini aku Proocitro. Akapah kau belum tertidur.”
Roro Mendut :
(dengan hati berdebar, cemas, juga khawatir)
“kakanda, aku sudah menunggu sejak kau sampaikan rencana ini tadi siang.”
(seraya membuka pintu, dan kemudian memeluk erat-erat Pronocitro yang berdiri gagah di depan pintu)
            Pronocitro :
“Ayo, lekaslahh adinda… “
“sebelum ayam berkokok, kita harus meninggalkan istana. Kita akan pergi ke selatan menuju laut kemudian kita bisa berlayar ke manapun kita mau.”


BABAK 9
Ketika akan melarikan diri, mereka ternyata diketahui oleh penjaga istana.
            Penjaga istana :
(dengan gugup, takut bukan kepalang dan tergesa-gesa melakukan sembah sungkem)
“Kanjeng Tumenggung, mohon maaf. Roro Mendut dibawa kabur oleh Pronocitro melewati selatan istana”
            Tumenggung Wirogunan :
(dengan wajah murka)
“Bedebah!!! Kurang ajar mereka berdua, tangkap hidup-hidup mereka. Akan merasakannya tangan ku mereka berdua.”
(dengan tangan mengepal dan meremas-remas)
            Penjaga Istana :
“Sendiko, Kanjeng Tumenggung”
(segera meninggalkan, istana dibarengi pasukan istana lain)
Jejak Pronocitro dan Roro mendut segera bisa ditemukan oleh para penjaga, yang kemudian mengejar mereka.

            Penjaga Istana :
“ Hey kowe, Pronocitro … !!! berhenti, berhenti…. Kurang ajar kalian !!!”
(dengan terus berlari)
            Pronocitro :
“Ayo terus lari, adinda… kuatkanlah langkah kakimu.”
(dengan terus member semangat yang tersisa kepada Roro Mendut)
Akhirnya Pronocitro dan Roro Mendut tersudut, mereka sudah kehabisan tenaga untuk terus berlari dari kejaran Penjaga istana. Tanpa perlawanan yang berarti dari Roro Mendut dan Pronocitro, mereka akhirnya bisa dengan cepat diringkus oleh penjaga istana dan kemudian di bawa ke hadapan Kanjeng Tumenggung Wironunan di istana.

BABAK 10
Setibanya mereka di Istana, bagaikan tawanan nomor satu. Mereka di arak-arak dan dipermalukan sepanjang jalan.
            Tumenggung Wirogunan :
“Bangsat!!! Bedebah…!!! Kalian coba-coba memperrmainkan ku Tumenggung Wirogunan… sudah cukup kuat rupanya kalian.”
(dengan wajah geram)
“Bawa mereka ke tengah kota, biarkan semua orang di istana ini tau akan adanya pasangan bedebah di istana ini… !!!
(hanya menjentikan jarinya kepada penjaga istana)
Setelah tiba di tengah kerajaan semua orang di kumpulkan untuk menyaksikan pasangan tersebut mendapat hukuman dari Kanjeng Tumenggung.
            Tumenggung Wirogunan :
(dengan tampang geram, dan tampak akan membabi buta)
“Bawa bajingan yang laki-laki itu kemari….!!! Bangsat, dia telah menghancurkan martabatku menjadi Tumenggung.”
(dibawanya Pronocitro oleh penjaga istana ke hadapan Kanjeng Tumenggung)
Kemudian kanjeng tumenggung dengan cepat mengambil keris di balik punggungnya, dengan maksud menusuk Pronocitro.
            Tumenggung Wirogunan :
“ Bedebah, mati kauu…. !!!! “
Dengan spontan Roro Mendut yang tidak berada tak jauh dari Pronocitro, melompat untuk melindungi kekasihnya dari hujaman keris Kanjeng Tumenggung Wirogunan. Dan hingga Roro mendut lah yang tertusuk hujaman keris milik Tumenggung.
            Pronocitro :
(dengan deru air mata yang semakin deras mengalir)
“Adinda…. Roro Mendut… tidakkkk !!!!”
Kemudian dengan cepat mencabut keris yang telah menghujam perut Roro Mendut, dan menusukan keris tersebut pada perut Pronocitro sendiri. Dan akhirnya pasangan itu meninggal dengan satu keris milik Tumenggung Wirogunan.
            Tumenggung Wirogunan :
(dengan terheran-heran, dan sembari bergumam karena kejadian tersebut)
“Sungguh terlalu! Dia benar-benar tidak mau menjadi isteri ku, Roro Mendut lebih memilih mati. Terlalu besar citanya pada keparat itu… !!!”
“ Kuburkan jasad mereka satu liang lahat, patih!”
(segera lakukan)
            Patih :
(sambil sembah sngkem)
“sendiko gusti Kanjeng Tumenggung.”


TAMAT,

                                                                                                Tangerang, 28 November 2013
 
                                                                                                            Astra P. Leksana
                                                                                                (PBSI 5A – 1111013000090)

1 Komentar:

Pada 2/23/2021 10:28 AM , Blogger Unknown mengatakan...

ini hal brp sampe brp yaa?

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda